Selamat datang di Bapang007!
Di blog ini, Anda menjelajahi kekayaan tradisi, budaya, sistem kepercayaan, kebijaksanaan kuno dan sejarah Bangka. Kami menyajikan cerita-cerita yang menghidupkan warisan budaya. Temukan juga sejarah menarik dari berbagai budaya yang telah membentuk identitas Bangka. Bergabunglah dengan kami dalam perjalanan ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang keindahan dan keunikan Bangka. Selamat membaca dan semoga terinspirasi!
Kertas informasi waktu sembahyang atau ibadah untuk hi fuk [ doa berkah ] kepada Dewa Thai Soi Sen Kiun. Tercantum pula info mengenai hari baik buka usaha. Kertas ini dapat diambil di Kelenteng Kwan Ti Miau Pangkalpinang beserta pai bui [ selembar kertas merah untuk sembahyang ].
Pai Bui - Kelenteng Kwan Ti Miau Pangkalpinang
Sembahyang Hi Fuk [dok. pribadi]
Sembahyang Dewa Thai Soi untuk hi fuk, menggunakan kue, buah, dan chai choi [jamur, tung fun {soun}, & kimci]. Hanya menggunakan teh, tanpa arak. Arak disajikan saat ban fuk beserta samsang. [Vau-G/www.bapang007.blogspot.com]
Thiam pan [客家甜粄] yang berarti kue manis merupakan salah satu kue khas menjelang Kongian di Bangka. Proses pembuatan tradisional dengan mengiling beras ketan putih menggunakan batu giling [Sak Mo]. Sesendok demi sesendok beras ketan masuk ke lubang penggilingan, dicampur sedikit air. Hasil penggilingan berupa air ketan dimasukkan ke karung terigu. Ditindih menggunakan bahan yang berat, hingga airnya keluar. Ketan tersebut dengan berat 1 kg di dicampur 1 kg gula pasir. Diaduk rata hingga campuran tersebut menjadi encer. Masukkan campuran ketan ke dalam wadah kaleng yang telah dilapisi dengan kantong plastik bening. Untuk lebih aman, dapat menggunakan daun pisang. Thiam pan dikukus menggunakan kuali besar yang telah diisi air dengan kayu sebagai bahan bakar. Tungku kayu berada di ruangan terbuka. Penutup kuali dengan tudung berbahan daun atau alumunium dengan pinggiran tudung ditutup kain basah agar panas tidak mudah keluar.
Untuk memperoleh tepung ketan selain memakai batu giling dapat pula ke tempat penggilingan tepung. Terlebih dahulu, beras ketan putih dicuci bersih. Jemur kering di bawah sinar matahari dengan ditutup kain agar tidak debu. Setelah kering dapat dibawa ke penggilingan tepung. Saat pembuatan thiam pan, tepung ketan dicampur dengan air dengan perbandingan 1 kg tepung ketan putih dicampur 0.5 liter air. Setelah pencampuran rata, baru dicampur dengan 1 kg gula pasir. Biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 -2 jam untuk mencampur hingga rata dan tekstur menjadi encer. Proses selanjutnya penyaringan air ketan supaya bersih dan penuangan ke wadah kaleng.
Dengan penuh kesabaran, thiam pan dikukus selama 24 jam. Perlu menjaga ketersediaan air dan api bakar. Warna awal ketan yang putih, dimasak hingga berwarna coklat. Setelah selesai, thiam pan dijemur di bawah sinar matahari selama minimal 2 minggu hingga tekstur menjadi keras. Mengukus kue thiam pan perlu kehati-hatian. Jika gagal dipercaya akan menimbulkan kesialan bagi keluarga. Pada zaman dahulu, setiap keluarga membuat sendiri kue thiam pan.
Thiam pan akan dikonsumsi tgl 20 bulan 1 penanggalan imlek sebagai hari Thian Chon Ngit [Hari Tambal Langit]. Diyakini perlu untuk menambal langit dengan mengkonsumsi kue thiam pan. Cenderung pada hari tersebut akan bercuaca cerah dan panas.
Cara mengkonsumsi thiam pan diiris tipis kemudian digoreng atau dikukus dengan ditaburi parutan kelapa. Dapat pula dikonsumsi langsung. Untuk orang usia lanjut, mengkonsumsi kue thiam pan dalam jumlah yang terbatas. Karena ketan dipercaya dapat mengakibatkan ngilu atau nyeri tubuh bagi sebagian orang.
Di Bangka, untuk keluarga yang sedang berduka cita, tidak membuat atau membeli thiam pan. Sanak saudara dan teman yang akan memberikan kue thiam pan. Bahkan kue thiam pan ini diberikan juga kepada teman-teman muslim di Bangka.
Kue thiam pan dengan proses hingga penjemuran, dapat disimpan dalam jangka panjang di suhu ruangan hingga 6 bulan. Sewaktu-waktu selain hari Thian Chon Ngit, kue thiam pan masih dapat dinikmati. Bagian yang telah keras atau berjamur, dapat diiris untuk dibuang. Maklum zaman dahulu, makanan ringan belum sebanyak sekarang. Sehingga cenderung untuk membuat kue dalam jumlah banyak, namun tahan simpan. Hingga dapat dikonsumsi di lain waktu. Selamat menikmati kue thiam pan dan merayakan Thian Chon Ngit. { Vau-G/www.bapang007.blogspot.com}
Ko Tung merupakan salah satu perayaan China Bangka. Dimana
menandai waktu Ko Ngian telah tiba. Dan sebagai tanda masa-masa sulit telah
lewat yang beralih melintasi masa bahagia yaitu Ko Ngian. Ada kepercayaan dalam
bahasa Khek , ‘ Lan Tung, Mo Lan Ngian-
[ Lan berarti hancur atau rusak yang
dapat diasosiasikan ke jalan yang tanah becek akibat hujan, atau kondisi cuaca
yang tidak baik].’ Secara umum,jika Ko
Tung hujan, maka Ko Ngian tidak hujan.”. Demikian pula sebaliknya.
Kue cak cak atau sakjan menjadi makanan saat Ko Tung.
Berbahan tepung ketan putih. Ada juga yang menggunakan bahan ubi dan kentang.
Kuahnya dengan jahe yang dicampur gula merah [gule kabung]. Cak cak sendiri
memiliki pengertian sebagai kue bohongan [mainan] dalam bahasa Bangka (
Icak-icak). Terkadang menjadi bahan untuk humor di kalangan keluarga dan
teman-teman.
Pada saat memasuki Ko Tung, siang hari berlangsung lebih
singkat. Dan malam berlangsung lebih panjang. Hal ini didasarkan pada saat
perhitungan awal dari panjang pendeknya bayangan matahari dari alat yang bernama
‘Gui’. Hari Ko Tung jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember penanggalan Masehi.
Memakan kue cakcak ada seninya. Untuk memakan pertama kali
menyesuaikan dengan usia ditambah satu buah cak cak. Usia berdasarkan penanggalan imlek. Setelah
habis, mau menambahkan dapat sesuai dengan keinginan. Yang kerepotan tentu para
orang lanjut usia. Penambahan 1 buah dari usia, dengan harapan usia bertambah
panjang 1 tahun ke depan. Atau dapat pula dengan jumlah 12 butir ditambah 1
butir cak-cak sebagai berkah.
Keseruan muncul ketika seluruh anggota keluarga berkumpul
membantu untuk membuat cak cak. Dimana bersama memulung cak cak hingga bundar.
Ketika muncul cerita seru sambil gotong royong membuat cak cak. Memulung sambil
duduk di lantai. Ketika yang usia tua akan bangkit, kadang muncul sakit di kaki
atau pinggang. Yang berusia muda, belum mengerti dan suka menertawai. Padahal
itu proses alamiah kehidupan. Suatu masa yang muda akan mengalami usia tua dan
tentu sakit akan muncul.
Secara tradisi setelah selesai membuat kue cak cak, keluarga
akan menyajikan sebagai salah satu persembahan sembahyang ke klenteng terdekat.
Baru dinikmati di lingkungan keluarga. Kue cak cak tidak dibuat oleh keluarga
yang sedang berduka. Tidak diperbolehkan untuk membeli. Namun boleh menerima
kue cak cak dari para kerabat di luar keluarga inti dan para sahabat.
Secara tradisional, kue cak cak dikonsumsi bersama-sama
dalam keluarga. Rasa kebersamaan dan kesatuan yang saling memiliki. Semoga
tradisi ini dapat menjadi acuan pada zaman modern ini. Orang akan sibuk dengan gadgetnya
sendiri. Duduk dalam satu meja, namun tidak saling berinteraksi. Padahal
interaksi dan komunikasi penting dalam menjaga kerukunan dalam keluarga.
Ketika phubbing [sikap mengabaikan orang lain yang
berinteraksi dengan kita. Karena perhatian sibuk teralihkan ke gadget
masing-masing, Kuaranita,2020] . Kualitas interaksi yang berkurang, menurunkan
komunikasi. Korban akan merasa tidak dihargai dan terisolir. Ini yang menjadi
perpecahan dalam keluarga.
Mari dalam momen Ko Tung ini,selain berbagi kue cak cak, kita menikmati
kue cak cak dalam satu pembicaraan hangat. Hanya keluarga, kue cak cak, tanpa gadget.
Membangun kembali interaksi dan komunikasi yang hangat dalam keluarga. Secara
umum, jika jatuh pada tanggal 22 Desember, akan bersamaan dengan Hari Ibu. Selamat
hari Ko Tung dan Hari Ibu. (Vau-G)
Setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek, yang dikenal
dengan Chit Ngiat Pan ( sembahyang pertengahan bulan ke tujuh Imlek ) atau
Sembahyang Rebut ( Chiong Shi Ku ). Diyakinioleh warga Tionghoa Bangkapada
saat tersebut pintu akhirat terbuka ( Khoi KuiMun). Seluruh arwah akan turun ke bumi sejak permulaan bulan ke
tujuh.Diantara arwah tersebut, ada yang
bergentayangan dalam keadaan terlantar, sehingga mereka sangat membutuhkan
persembahan makanan. Arwah yang terlantar ini karena tidak memiliki keturunan,
meninggal tidak wajar, dan meninggal dalam kurun waktu lama ( generasi lanjut tidak kenal dan tidak memberi persembahan ).
Sembahyang Rebut - wsj.com Images
Budaya Tionghoa mengenal 3 sembahyang utama yakni sembahyang
Ko Ngian ( Imlek ), Chin Min ( Cheng Beng) dan Chiong Si Ku (Rebut) .
Beberapa tempat di Indonesia , mengenalsembahyang Chiong Si Ku dengan Cioko. Umat
Buddha menamai dengan perayaan Ulambana. Umat Khong Hu Cu dengan sembahyang Arwah
Umum / Jing Hao Peng. Ajaran Tao sebagai
perayaan Tionggoan ( 中元- Zhong Yuan ). Sedangkan Yu
Lan Hui ( Hari Arwah Tionghoa) di Serawakdan Festival Hantu (鬼節 - Gui Jie)oleh masyarakat internasional.
Bulan ke tujuh penanggalan Imlek disebut dengan Bulan Hantu
yang mana dipercayai selama kurun waktu setengah bulan, pintu akhirat terbuka,
sehingga arwah berkeliaran di alam manusia. Kembali ke akhirat pada malam
tanggal 15 penanggalan Imlek. Konon pada bulan ke tujuh, orang Tionghoa akan
jarang sekali membuka usaha, pindah rumah dan resepsi pernikahan. Ditenggarai memiliki potensi kurang baik dan
ketidakberuntungan.
Thai Se Ja - koranbabel.com Images
Thai Tse Ja (Thai - yang paling Berkuasa; Tse - Orang
Meninggal ; Ja - Raja ) adalah Raja Akhirat. Penampilan keadaan duduk,
tangan kiri memegang buku dan tangan kanan memegang pena. Diyakini Thai Se Ja
sedang mencatat arwah gentayangan di bumi. Patung ini bertempat di halaman
Klenteng. Terdapat aneka persembahan seperti umbi-umbian, kacang, sayuran dan
buah di depan altar Thai Se Ja. Sajian
sebagai hidangan bagi arwah sebelum kembali ke akhirat.
Persiapan perayaan memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya besar.
Patung Thai Se Ja yang semakin besar dan tinggi,perlambang kemakmuran lingkungan setempat.
Patung terbuat dari kain atau kertas lima warna ( biru, hijau, merah, kuning
dan jingga). Kerangka bambu, dengan pundak Thai Se Ja dipasang payung dan
bendera perlindungan. Bendera tertulis “ Lin atau Liang” berarti manjur.
Payung yang menghiasi pundak Thai Tse Ja dikenal dengan“Payung Kramat” menjadi salah satu barang
lelang. Dipercaya membawa kemakmuran dan pelindungan. Dana lelang masuk ke kas
Klenteng.
Puncak sembahyang Rebut dibukanya kain atau kertas merah penutup
mata patung. Ritual ini dikenal dengan Khoi Kong. Ada sebuah harapan akan
kebaikan yang tercermin pada tulisan di dada Thai TseJa yaitu Hap Ka ( Ham Cung) Phin On -Kesejahteraan untuk seluruh warga masyarakat
. Persembahan di altar Thai Tse Ja akan
diperebutkan oleh masyarakat. Setiap orang harus mendapatkan, walaupun hanya sebutir
beras.
Ritual rebut diadakan pada tengah malam, jam 00.00 WIB.
Setelahaba-aba diberikan, maka masyarakat
dapat berebut persembahan altar. Hal inilah yang membuat sembahyang ini dikenal
dengan sembahyang Rebut. Pada ritual ini terdapat keunikan, setiap peserta
berusaha mendapatkan apapun. Dipercaya jika tidak memperoleh sesuatu, maka akan
memperoleh kemalangan. Namun sebaliknya, jika memperoleh dalam jumlah yang
banyak, akan memperoleh rezeki yang melimpah. Makanan hidangan arwah, dipandang lebih bernilai dibanding
makanan biasa. Menurut kepercayaan, arwah akan pergi ketakutan melihat banyak
orang yang agresif ketika berebut persembahan. Sehingga arwah akan cepat segera
meninggalkan dunia manusia.
Dalam ritual rebut, selain mengambil persembahan, ada suatu
benda unik yang menjadi daya tarik yaitu Fung Pu ( Kain Merah). Kain ini
disembunyikan di antara persembahan. Ini melambangkan keberuntungan. Dapat dijual
kembali dengan harga tinggi.
Setelah selesai, patung Thai Se Ja pun segera dibakar. Ini
sekaligus sebagai pertanda bahwa arwah
telah dibawa pulang oleh Thai Se Ja ke akhirat.
Klenteng yang biasa menyelenggarakan sembahyang Rebut yaitu:
a.A. Klenteng Jaya Bakti, Desa Rebo, Kabupaten
Bangka,
c.C. Klenteng Cetya Dharma Abadi, Desa Pohin,
Sungailiat
Makna ritual sembahyang Rebut sebagai keinginan berbagi dan
membantu baik manusia maupun arwah.
Sehingga disebut pula bulan Berdana.Orang berdoa dan memberi persembahan. Harapan arwah dapat memperoleh
ketentraman dan tidak mengganggu manusia. Peserta dapatmenikmati barang-barang persembahan .
Sembahyang Rebut memberikan dampak sosial bagi masyarakat
untuk saling gotong royong, tanggung jawab, bersatu padu dan berkumpul.
Terdapat komunikasi intensif sejak beberapa bulanuntuk persiapan sembahyang. Umat awam datang
membantu panitia, bahkan yang telah jauh merantau akan memberikan sumbangan dalam
bentuk uang, buah-buahan, sembako dan lain sebagainya. Dampak sosial di atas
dapat pula mempererat hubungan kekeluargaan.
Sesuai dengan ajaranLao Tze, prinsip Yin-Yang, menciptakan keteraturanatau keharmonisan dalam masyarakat. Menjalankan
ajaranKong Hu Cu bahwa manusia budiman
selalu membantu dan memperhatikan penderitaan orang lain.
Atraksi Sembahyang
Rebut
A.Ko Fo San – Melewati Kobaran Api. Ritual berjalan
di atas bara api. Dipimpin oleh seorangThai Pak(orang pintar ) dengan
membaca mantra danmenyemburkan air .
Terlebih dahulu, ia akan mencoba berjalanberulang kali di atas bara api. Setelah itu diikuti oleh para peserta.
Masyarakat mempercayai jika berjalandi
atas bara api akan menyembuhkan penyakit dan sebagaitolak bala.
B.Ko Po Li Sak – Melewati pecahan beling kaca. Syarat
ritual ini menggunakan pecahan kaca baru. Sama dengan ritual Ko Fo San,masyarakat akan berjalan di atas pecahan
kaca, tanpa mengalami rasa sakit dan terluka.
C.Ko Jiw Bok –Wadah minyak panas. Minyak kelapa dari 7 buah kelapa yang memiliki 7
mata. Dimasak menggunakan 7 mata air sungai. Setelah minyak mendidih, orang
pintar akan menjapa mantra. Para peserta akan bergantian mencelupkan tangan dan
mengusap-usap minyak tersebut ke wajah atau anggota tubuh lainnya. Minyak hanya
terasa hangat.
D.Ko To San – Melewati Pisau Tajam.
Di Bangka, pertunjukan Ko Fo San dan Ko Po Li Sak yang masih
sering dijumpai dalam perayaan.
Latar belakangsembahyang Rebut
Kisah bakti seorang anak bernama Bok Lian. Setelah ibunya
meninggal, Bok Lian pergi menghadap ke Raja Akhirat. Membawa sebuah bendera
sakti pemberian gurunya. Dalam perjalanan ke akhirat, bertemu dengan
beberapaarwah sedang menjalani hukuman.
Setelah sampai di hadapan Raja Akhirat, Bok Lian memohon kepada Raja Akhirat
untuk mengampuni ibunya. Raja menyetujui dengan syarat Bok Lian mau
menggantikan hukuman ibunya selama 1 bulan lamanya.
Sehubungan dengan keputusan ini,Raja Akhirat pun memutuskan untuk
menangguhkan hukuman arwah selama setengah bulan dan membuka pintu akhirat.
Dari sini, orang Tionghoa menyelenggarakan sembahyang rebut untuk memberikan
persembahan bagi arwah.
Serba serbi Sembahyang
Rebut
A.Lukisan Dinasti Qing - Perayaan Festival
Hantu.
Lukisan Perayaan Festival Hantu, Dinasti Qing - ancient.eu Images
B.Beberapa perayaan Sembahyang Rebut dari
Berbagai Negara.
1Tet Trung Nguyen(Vu Lan) - Vietnam
Perayaan yang diadakan di Vietnam, setiap tanggal 15 bulan 7
penanggalan Imlek. Dikenal pula dengan Xa Toi Vong Nhan ( Hari Para Arwah).
Pada hari itu, dipercaya pintu akhirat akan terbuka. Arwah akan pulang dan
berkumpul kembali ke rumah keluarga yang masih hidup. Pagi hari telah dipersiapkan
aneka hidangan untuk arwah leluhur . Setelah acara sembahyang, anggota keluarga
berkumpul makan bersama. Menu
vegetarianmenjadi pilihan utama pada
saat perayaan. Sore hari, akan dipersiapkan hidangan untuk arwah yang tidak
memiliki keluarga. Hidangan tersebut diletakkan di depan rumah. Baru menjelang
malam baru diadakan upacara melarung lentera di sungaisambil memanjatkan harapan yang ingin
dicapai. Upacara ini menghadirkan cahaya-cahaya yang berkilauan di atas
sungaidan suasana terasa sangat
khidmat.
2Segaki - Jepang
Segaki yang berarti memberi makan hantu kelaparan. Bertujuan
untuk mengurangi penderitaan dari gaki atau
muenbotoke ( arwah yang tidak memiliki sanak saudara). Hantu
ini sangat tersiksa akibat rasa lapar yang tidak terpuaskan. Secara tradisional
juga dirayakan sebagai bagian dari Urabone ( Ullambana) pada bulan Juli. Ritual
diadakan di Kuil Buddha dan biasanya jugameletakkansegaki –dana ( rak
persembahan untuk arwah) di rumah. Persembahan dapat berupanasi dan air minum.
3Pchum Ben – Kamboja
Bulan ke-10 atau bulan Pheaktrobotr dalam
penanggalan Khmer, orang Kamboja merayakan Pchum Ben ( Khmer: បុណ្យភ្ជុំបិណ្ឌsebagai Hari Para Leluhur ) berlangsung selama 15 hari. Bertepatan pula
dengan masa vassa para Bhikkhu. Perayaan ini menjadi salah satu perayaan
penting di kalender Khmer selain Tahun Baru di bulan April.
Kata “Phchum” berarti kumpul bersama dan “
Ben” berarti bola nasi.
Pada perayaan ini, orang Kamboja mengadakan penghormatan kepada leluhur sampai 7 generasi awal. Bhikkhu
memanjatkan paritta suci dalam bahasa Pali sepanjang malam secara
berkesinambungan sejak pintu neraka terbuka.
Selama
masa ini,preta (arwah) akan keluar.
Agar tidak mengganggu, manusia mempersembahkan sejumlah makanan. Selain itu adapersembahan
makanan kepada Para Bhikkhu Sangha di Pagoda setempat. Jasa perbuatan baik
inidilimpahkan kepadaarwah leluhur (1). Kegiatan mulai di pagi hari. Orang berbagai usia
berkumpul dan memakai pakaian tradisional.
Tata
cara mempersembahkan dengan melemparkan langsung bola nasi ke udara atau ke
lapangan terbuka di luar Pagoda. Untuk arwah yang tidak dapat masuk ke dalam
Pagoda karena semasa hidupnya melakukan banyak perbuatan jahat.
Kekinian,bola nasi dimasak dengan santan kelapa
bercampur aneka bahan2 tradisi setempat. Ini memberi ciri khas tersendiri antar
masing2 bola nasi.
Para
peserta perayaan membawa kue Num Onsam dan Num Korm yang manisuntuk saling bertukar. Bertujuan memupuk rasa
persaudaraan. Perayaan ini menjadi hari libur nasional. Kesempatan ini
dimanfaatkan untuk pulang kampung
halaman untuk merayakan dan kumpul bersama.
Ho Khao Padabdine– Laos
Setiap tahun, Hari Orang Mati –
Ho Khao Padabdine berlangsung pada hari ke 15 bulan sembilan dari penanggalan
Laos.Umat Buddha melakukan jasa-jasa
kebajikan dengan mempersembahkan makanan kepada Para Bhikkhu. Jasa kebajikan
ini dilimpahkan kepada leluhur.
Persembahan makanan berupa Tomh
Khao, Khao Nom Neb, dan buah. Memiliki arti sebagai tanda penghormatan kepada
leluhur.
Ho Khao Padapdine berarti “mengirimkan nasi dan meletakkan di
lantai”.
Pagi hari saat gelap gulita,persembahan berupa makanan asin, buah, kue, sirih dan rokok diletakkan
di depan stupaabu leluhur, di bawah
pohon dandi sudut Vihara dengan
dibungkus daun pisang atau teratai.
Harapan saatgelap, arwah leluhur dapat
menikmati persembahan.
Suara tabuhan gong Pagoda terdengar
hingga ke jalan-jalan, pertanda perayaan telah mulai. Persembahan kepada
Bhikkhu mulai dibawa. Tak lupa pintu masuk pagoda, tergantung persembahan pada
tiang untuk orang meninggal karena kekerasan atau tidak memiliki sanak
keluarga.
Selamat merayakan sembahyang rebut ( Chiong Shi Ku ) . Semogapemberian baik material maupun non material
akan memperoleh berkah-berkah kebaikan baikbagi arwah leluhur maupun arwah lain serta bagi para pemberi.
Catatan Kaki
[1] ^ Menurut ajaran Buddha, arwah
tertentu mampu “memakan” persembahan. Untuk arwah jenis yang lain, hanya dapat turut
berbahagia atas kebaikan berupa persembahan yang telah dilakukan oleh sanak
keluarga.
Referensi
1.Celebrate Chinese Culture: Chinese
Literature, Diterjemahkan oleh Li En dan Chan Ying Kit, PT. Elex Media
Komputindo, 2014.
2.Celebrate Chinese Culture: Chinese
Folk Customs, Diterjemahkan oleh Shirley Tan, PT. Elex Media Komputindo, 2015.
3.Celebrate Chinese Culture: Chinese Auspicious
Culture, Diterjemahkan oleh Evy Wong dkk, PT. Elex Media Komputindo, 2014.
4.Ghosts in Chinese Culture, en.wikipedia.org,
Diakses tanggal 19 Februari 2017, Jam 23.01 WIB.
5.Tanggok, M. Ikhsan, Agama dan
Kebudayaan orang Hakka di Singkawang, Kompas, Jakarta2017.
6.Nio Joe Lan, Peradaban Tionghoa Selajang
Pandang, Penerbit Keng Po, Jakarta, 1961.
7.Rika Theo dan Fennie Lie, Kisah Kultur
dan Tradisi Tionghoa Bangka, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2014.
8.Segaki. Wikipedia.org. Diakses
tanggal 27 Maret 2017, Jam 05.45 WIB. 9.Hungry Ghost Festival, traditions.cultural-china.com, diakses tanggal 19 Februari 2017,Jam 22.59 WIB.
10.Vu Lan Festival , toursinvietnam.com,
diakses tanggal 7 Maret 2017, Jam 23.16 WIB.
11.Feeding the Ancestors: The
Cambodian Pchum Ben Festival,
mekong.net, diakses 15 Agustus 2017, Jam 20.29 WIB.
12.Boun Ho Khao Padabdine, luangprabang-laos.com diakses tanggal
20 Agustus 2017, Jam 22.29 WIB.
Ng Ngiat Ciat -五月节 (bahasa Hakka/Khek
Bangka artinyaHari
RayaBulan ke-5) dirayakan setiap tanggal 5 bulan 5
penanggalan Imlek oleh orang Tionghoa Bangka. Dalam bahasa Mandarin
dikenal dengan Duan Wu Jie -端午节, sedangkan dalam dialek Hokkian Peh Cun(Pa Chuan - 扒船 ) yang berarti mendayung perahu. Dalam
perayaan Ng Ngiat Ciat, terdapat tradisi membuat kue Nyuk Cung- 肉粽 (Ba
Cang - Hokkian;Zong
Zi - 粽子).Nyuk Cung secara
harafiah berarti isi daging.
Nyuk Cung
-indonesiamedia.com Images
Selain Nyuk Cung sebagai makanan khas Ng Ngiat Ciat terdapat
Sui Cung ( Kicang/kwecang). Nyuk Cung berisi daging dengan berbagai macam isi
variasinya seperti daging babi, ayam, samballingkung [1] dan beberapa variasi lainnya.
Sedangkan Sui Cung merupakan beras ketan tanpa penambahan isi dilengkapi dengan
kuah cocolan manis dari campuran gula kabung
(aren) dan pati (santan) kelapa. Dibungkus
dalam daun bambu, Sui Cung memiliki warna kuning mengkilap dan tekstur kenyal
dari hasil pengukusan selama kurang lebih 7 jam. Sui Cung berukuran lebih kecil.
Nyuk Cung dibungkus dari daun pandan. Daun pandan tersebut direbus terlebih
dahulu untuk mempermudah pada waktu membungkus dan sebagai detoksifikasi. Dilap
hingga bersih dan kering. Setelah itu diisi dengan ketan, Nyuk Cung diikat
dengan tali puar dengan hasil
berbentuk limas segitiga.
Sui Cung -
theanandayoca.blogspot.com Images
Samballingkung -
www.rakyatbangka.com Images
Kita akan menemui beberapa fenomena unik pada saat tengah
hari ( pukul 12.00 WIB) perayaan Ng Ngiat Ciat di Bangka.
1.Air laut menjadi surut dengan titik yang paling
jauh dalam sepanjang tahun. Terpengaruh
oleh gaya gravitasi bulan dan matahari yang berbeda di setiap titik bumi. Pada
waktu posisi bulan dan mataharisegaris
( dalam perayaan ini pada periode bulan baru ), akan terjadi pasang surut air
laut pada waktu tengah hari.
2.Jika sebuah
telur mentah didirikan pada bidang rata secara vertikalmaka akan dapat tegak berdiri.
Mendirikan
Telur di Pantai Matras - id-id.facebook.com Images
Beberapa penjelasan ilmiah berkaitan dengan telur mentah
yang dapat berdiri pada waktu Ng Ngiat Ciat.
·Menurut Thomas Djamaluddin – Kepala LAPAN ( Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional)
Akibat gaya differensial gravitasi bulan
dan matahari. Perbedaan gaya gravitasi oleh bulan dan matahari yang bekerja
pada telur, mampu menjaga telur tegak berdiri beberapa waktu. Namun perlu pembuktian lebih lanjut mengenai
pengaruh gaya differensial gravitasi bulan dan matahari.Di Dunia Barat sendiri,
telur dapat ditegakkan pada saat Equinox ( pada tanggal 21 Maret, saat matahari
berada di ekuator). Pada kondisi ini, tanpa ada pengaruh gravitasi bulan.
Differensial
gravitasi bulan dan matahari - tdjamaluddin.wordpress.com Images
·Menurut Prof. Yohanes Surya Ph.D – Pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia
Berdasarkan penelitian fisikawan Prof.
David Allan, ia berpendapat bahwa di antara Matahari dan Bumi terdapat
garis-garis medan gravitasi yang mempengaruhi elektron-elektron dalam telur.
Gerakan elektron-elektron inilah yang menyebabkan terjadinya kestabilanpada telur hingga dapat berdiri.
3.Air sumur menjadi terasa lebih dingin
Di Desa Bakik, Kecamatan Jebus, Kabupaten
Bangka Barat yang memiliki Sumur Dewa. Banyak orang akan sengaja datang untuk
mandi tepat tengah hari dengan sensasi air yang terasa lebih dingin sesaat pada
waktu tengah hari perayaan Ng Ngiat Ciat.
Di kalangan para Tabib akan memanfaatkan waktu mencari dan
mengambil sebanyak-banyaknya tanaman obat pada waktu tengah hari [2]. Diyakini ini adalah obat yang
memiliki khasiat terbaik dalam sepanjang tahun setelah menerima panas
mataharidan menyerap energi Yin (bumi)
dan Yang ( langit) paling maksimal. Menurut para ahli obat Tiongkok, pada hari
tersebut energi Yin dan Yang bertemu.
Masyarakat Tionghoa Bangka akan berbondong-bondong pergi ke
pantai pada waktu perayaan. Seperti ke pantai Pasir Padi, Matras, Parai,
Tanjung Pesona dan lain-lain untuk mandi di laut pada tengah hari saat terik
matahari. Disertairitual membuang Nyuk
Cung ke laut.
Tempat perayaan Ng Ngiat Ciat Bangka
-Di Pantai Penyusuk Kecamatan Belinyu, masyarakat
datang rekreasi bersama keluarga diisi acara makan bersama, mandi air laut, dan
bermain ke Pulau Lampu.
Ng Ngiat Ciat
-lipsus.kompas.com Images
-Di Pantai Matras oleh umat Kong Hu Cu dari Kwan
Ti Miau Sungailiat, me-larung Nyuk
Cung . Pantai ini terletak di Sungailiat
– Kabupaten Bangka.
-Pantai Bedukang,
Desa Deniang, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka merayakan Ng Ngiat Ciat
sebagai salah satu agenda tahunan desa. Dilengkapi dengan ritual mengunjungi
Pulau Simbang dengan berjalan kaki. Hal ini dimungkinkan karena air laut yang
telah surut. Pulau ini merupakan pulau karang yang hanya didiami oleh burung
camar. Oleh warga dinamai burung Simbang. Setiap perayaan Ng Ngiat Ciat, Pantai
Bedukang dan Pulau Simbang sangat ramai didatangi oleh pengunjung. Selain itu
terdapat Pantai Tuing di Kecamatan Riau Silip sebagai tempat perayaan Ng Ngiat
Ciat. Dengan bentangan pantai yang panjang dan hamparan pasir putih nan luas.
Sembahyang
Ng Ngiat Ciat Pangkalpinang Pantai Pasir Padi -contenttugas.wordpress.com
-Perayaan Ng Ngiat Ciat di Pangkalpinang ,
dipusatkan di Pantai Pasir Padi. Diawali dengan sembahyang kemudian membuang
Nyuk Cung ke laut sebagai simbol penghormatan kepada seorang Menteri bijaksana
bernama Qu Yuan(339 – 277 SM) zaman
Dinasti Chu -楚atas wafatnya di sungai Mi Luo. Agar jenazah
Sang Menteri tidak diganggu ikan, rakyat melemparkan nasi dibungkus bambu. Dari
sinilah tradisi membuat Nyuk Cung bermula. Terdapat pula sebuah pulau kecil
yaitu Pulau Punai yang dapat dikunjungi dengan berjalan kaki pada waktu air
laut surut.
Qu Yuan -
mitos-israiliat.blogspot.co.id Images
Kebiasaan lain pada waktu perayaan yaitu menimba air dari
sumur tepat tengah hari. Air ini dipercaya sebagai air yang berkah, mampu
membuat awet muda. Dikenal dengan Air Ng Shi Sui. Ada masyarakat yang memiliki
ritual untuk mandi mengunakan air Ng Shi Sui ditambah bunga-bunga dan jeruk
Nipis pada waktu tengah hari Ng Ngiat Ciat.
“ Jangan makan Nyuk Cung nue gilak, kelak dengkul pacak
lemes – Jangan memakan Nyuk Cung terlalu banyak, nanti dengkul bisa lemas…”.
Itu sekelumit mitos yang sekelebat terdengar dikala asyik makan Nyuk Cung
bertemankan segelas kopi pahit. Mungkin karena Nyuk Cung yang begitu enak,
hingga 2-3 biji terasa tidak cukup, maka keluar mitos tersebut agar tidak
langsung habis dimakan oleh satu orang. Atau biasanya saking senang pada hari
itu, orang bisa mengkonsumsi Nyuk Cung sepanjang hari. Ini pun bisa berakibat rasa
cepat lelah dan lemas.
Namun untuk yang mengalami sakit maag, ada baiknya
mengkonsumsi Nyuk Cung yang terbuat dari beras. Tak lupa untuk yang vegetarian,
dapat memilih Nyuk Cung isi jamur atau mengkonsumsi Sui Cung.
Apakah Anda sekalian menjadi penasaran dengan fenomena-fenomena
perayaan Ng Ngiat Ciat?Silahkan Lihat-Coba
dan Buktikan….Semoga menambah pengetahuan dan pengalaman dan selamat merayakan
Ng Ngiat Ciat…(Vau-G/
www.bapang007.blogspot.com)
Catatan Kaki
[1] ^ sejenis abon yang terbuat dari bahan dasar
daging ikan. Dibumbui dengan berbagai macam rempah-rempah. Dapat dikonsumsi
sebagai lauk-pauk, isi roti dan kue.
[2] ^ saat matahari mencapai titik tertinggi di
langit. Waktu matahari ditentukan oleh posisi matahari relatif terhadap bumi.
Posisi matahari di titik tertinggi di langit sesuai dengan waktu matahari sama
dengan jam 12.00, di belahan bumi yang berlawanan adalah jam 24.00 atau 00.00.
Referensi
1.Ng Ngiat Ciat 五月节atau
Duan Wu Jie 端午节, bukjam.wordpress.com – Bangka Belitung
Island History, Culture and Tourism. Diakses tanggal 30 Mei 2016, Jam 10.29
WIB.
2. Peh
Cun, visitbangkabelitung.com – Visit Bangka Belitung, Come & Explore.
Diakses tanggal 5 Juni 2016, Jam 04.57 WIB.
3.Rika Theo dan Fennie Lie,
Kisah Kultur dan Tradisi Tionghoa Bangka, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2014.
4. Peh Cun
Dimeriahkan Tradisi Makan Bakcang. 12 Juni 2013, Jam 2012.
bangka.tribunnews.com. Diakses tanggal 30 Mei 2016, Jam 11.02 WIB.
5. Hari raya
Twan Yang / NG NGIAT CIAT/ PEH CUN di Bangka.6 Juni 2011, jam 11.24. facebook.com. Diakses tanggal 6 Juni 2016, Jam
20.58 WIB.
6.
Bhabinkamtibmas Bukit Ketok Jaga Perayaan Peh Chun Di Pantai Penyusuk. 5 Juni
2014, Jam 11.37. babel.polri.go.id. Diakses tanggal 6 Juni 2016, Jam 21.56 WIB.
7. Surya
Waktu, timeanddate.fasterreader.eu. Diakses tanggal 7 Juni 2016, jam 05.40 WIB.
8.
Tdjamaluddin, 12 Juni 2013. Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?.
Dokumentasi T. Djamaluddin – Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi;
tdjamaluddin.wordpress.com. Diakses tanggal 6 Juni 2016, Jam 21.18 WIB.
9. Kapolda
Hadiri Perayaan Peh Cun, 6 Juni 2016, 21.27 WIB. radarbangka.co.id. Diakses
tanggal 6 Juni 2016, Jam 21.48 WIB.
10. Rayakan
Peh Chun Warga Seberangi Pulau Simbang, 6 Juni 2011, Jam 11.02 WIB.
m.tribunnews.com. Diakses tanggal 8 Juni 2016, Jam 09.30 WIB.
11. Misteri
Aneh di Hari Peh Cun Yang Terungkap, zonabangkabelitung.blogspot.co.id. Diakses
tanggal 6 Juni 2016, Jam 21.45 WIB.