Tuesday, 23 June 2026

Kembalinya Chit Ngiat Pan Bangka [ Bagian 1]

Daftar Isi:

Ø  - Tentang Chit Ngiat Pan

Ø  🔮Tentang Chit Ngiat Pan

Chit Ngiat Pan [Pertengahan Bulan ke-7 Imlek]; 七月半 - qī  yuè bàn {M}; chhit-ngia̍t-pán {HM} memiliki 3 sembahyang yang dijalankan oleh orang Hakka  Bangka pada umumnya.

1.       Sembahyang kepada para leluhur yang ke - 3 dalam setahun dilakukan tanggal 14 bulan 7 Imlek.

2.       Sembahyang Khe Ja – orang tua angkat dari kalangan Dewa – dewi untuk anak-anak. Dilaksanakan di tanggal 14 bulan 7 Imlek.  Dalam setahun ada yang sembahyang khe ja pada tanggal 30 bulan 12 Imlek, hari kebesaran Dewa-Dewi yang menjadi orang tua angkat, dan tanggal 14 bulan 7 Imlek.

3.       Sembahyang Dewa-dewi setempat. Ada pula yang terbiasa melakukan sembahyang di kelenteng terdekat rumah . Kelenteng setempat yang berukuran tidak terlalu besar. Walaupun tidak menjadikan orang tua angkat, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa-dewi setempat. Biasanya dilakukan di tanggal 14 bulan 7 imlek dan tanggal 30 bulan 12 imlek [sam sip pu].

4.       Sembahyang chiong si ku [rebut] meliputi persembahan kepada makhluk-makhluk halus dibawah kendali Thai Se Ja. Thai Se Ja hanya bertugas selama bulan 7 imlek.  Puncak acara sembahyang dilakukan ritual rebut oleh masyarakat yang mengikuti acara.

Sembahyang kepada leluhur dilakukan di rumah pada tanggal 14 bulan 7 imlek. Ini menandakan sudah tidak lama lagi akan ko ngian [ tahun baru imlek ].

Sembahyang chiong si ku  merupakan ritual yang diyakini saat dimana pintu neraka terbuka lebar untuk para arwah. Arwah yang tidak pernah diurus oleh keluarganya setelah kematiannya dan kuburan mereka yang tidak pernah disembahyangi oleh keluarganya. Arwah-arwah ini yang turun ke bumi. Persembahan yang diberikan selama sembahyang rebut merupakan makanan bagi para arwah yang bergentayangan.

Dalam buku sembahyang rebut Kelenteng Kong Fuk Miau – Mentok disampaikan bahwa sekitar 2 bulan sebelum acara, telah dibentuk panitia pelaksanaan acara yang meliputi perwakilan warga. Ketua kelenteng akan membahas pembagian kerja, perancangan, persiapan bahan, konsumsi dan hal-hal lainnya.

Awal mula dilakukan pembuatan patung, kelengkapan sembahyang, dan diiringi memanjatkan doa harapan dan keselamatan. Pengumpulan bambu sebagai bahan penopang patung dan membentuknya sesuai figur patung. Pembuatan patung-patung dilakukan oleh orang-orang berketrampilan khusus. Ada patung kuda dan penunggang, burung hong dan kelabang, istana neraka, miniatur kapal, pencabut arwah, penjaga pintu neraka, penjaga bahan makanan, dan Dewa Bumi. Kerangka bambu dibungkus dengan kertas semen, sedangkan pembuatan kepala menggunakan styrofoam.

Pemakaian kayu reng sebagai kombinasi dengan bambu. Berfungsi untuk memperkuat rangka. Lem sagu sebagai perekat kertas. Kertas emas turut dipergunakan untuk patung Thai Se Ja. Rambut Thai Se Ja menggunakan bahan ijuk atau rafia. Tidak lupa ada gambar Dewi Kwan Im dan payung di atas kepala patung Thai Se Ja. Dewi Kwan Im yang menjaga Thai Se Ja.

Thai Se Ja dengan tangan kanan memegang pena untuk menulis arwah – arwah yang tidak terurus.  Sedangkan tangan kiri memegang bendera yang memiliki arti lambang kesejahteraan [ Thai Se Ja – Kelenteng Kong Fuk Miau; Mentok]. Ada Thai Se Ja yang memegang buku di tangan kiri. Selain itu ada yang memegang tulisan 分衣施 - fēn yī shī shí  artinya membagi pakaian dan memberi makanan.

Setelah perlengkapan sembahyang selesai, sebelum sembahyang chiong si ku dimulai, warga akan memberikan sumbangan bahan makanan pokok. Panitia akan menyiapkan daging ayam, babi, udang, menara nasi, buah dan kue tradisi. Kue tradisi terdiri dari kue ku, kue apem dan kue lapis.

Penataan kelengkapan sembahyang terdapat di dalam dan di luar kelenteng. Untuk mempermudah proses sembahyang, diberi no. urut pada setiap altar. Setelah semua perlengkapan sembahyang selesai dipersiapkan, kepala kelenteng akan memukul tambur dan lonceng sebagai dimulainya prosesi sembahyang rebut.

Penyembelihan ayam jantan muda  untuk diambil darahnya. Darah digunakan dalam prosesi pembukaan mata Thai Se Ja, patung dewa dan patung  penjaga. Pemimpin akan melakukan sembahyang untuk doa persembahan dan penghormatan kepada Dewa – Dewi. Agar diberi kelancaran dalam proses sembahyang rebut. Pemimpin sembahyang akan membuka kain penutup patung. Penutup mata yang dibuka untuk mengundang roh masuk ke dalam patung.

Setelah prosesi pembukaan kain merah, umat dipersilahkan untuk sembahyang mengikuti no.urutan altar sembahyang. Waktu sembahyang hingga larut malam jam 00.00 WIB. Sesaat sebelum acara puncak yaitu pembakaran patung Thai Se Ja dan kelengkapan patung sembahyang rebut.

Pihak kelenteng juga menyediakan makanan untuk para umat yang datang sembahyang dan para tamu undangan. Selain sebagai ritual keagamaan, banyak juga masyarakat umum yang tertarik menyaksikan sembahyang chiong si ku sebagai daya tarik wisata. Tidak ketinggalan kedatangan barongsai yang silih berganti dari berbagai perguruan barongsai.

Penutupan acara chiong si ku  dengan membakar patung Thai Se Ja dan patung perlengkapan lainnya. Menandakan pengantaran arwah kembali dan pintu akhirat telah ditutup. 

Kelenteng yang tidak membuat patung Thai Se Ja. Dapat mendirikan phang si ku.

棚四角- péng sì jiǎo {M}; phâng-si-kok {HM} [phang – struktur yang terbuat dari kayu; si – empat; ku – sudut. Struktur kayu tempat persembahan yang ditopang oleh 4 tiang [ hingga muncul 4 sudut], bertatakan papan.

Sembahyang chiong si ku yang dikenal dengan sembahyang rebut.

搶四角- qiǎng sì jiao {M}; Chhióng-si-kok {HM} [chiong – rebut; si – empat; ku – sudut -  berebut di empat sudut. Berebut dari empat penjuru arah].

Selain itu dikenal pula dengan pai si ku.

摆四角- bǎi sì jiao {M}; Pái-si-kok {HM} [pai – menata; si – empat; ku – sudut  - menata di empat sudut. Menata segala jenis persembahan di phang si ku].

Untuk tanggal 15 bulan 7 imlek, baru dilakukan persembahyangan di klenteng utama [ klenteng besar ]. Secara umum, orang hakka Bangka menamakan klenteng dengan thai pak kung. Walaupun Dewa atau Dewi yang menjadi tuan rumah klenteng adalah selain thai pak kung [ da bo gong] seperti Dewa Kwan Tie, Kwan Jim Nyong-Nyong, Dewa Fa Kong, Dewa Pet Tie, tetapi tetap klenteng tersebut disebut thai pak kung.

Umumnya selain altar persembahan mengunakan phang si ku  terdapat pula altar/meja persembahan untuk Thai Se Ja. Dan pendirian Thai Se Ja dapat menggunakan gambar atau patung. Untuk persembahan yang diperebutkan, yang berada di area phang si ku. Untuk persembahan di altar Thai Se Ja, tidak untuk diperebutkan. Ini akan dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

Namun karena tradisi setempat, ada pula klenteng setempat [ bukan klenteng utama] yang merayakan persembahyangan di tanggal 15 bulan 7 imlek, walaupun secara umum di tanggal 14. Ada pula kelenteng utama yang merayakan persembahyangan sampai 3 hari berturut-turut seperti Kelenteng Cetya Dharma Abadi Pohin, Air Duren – Sungailiat.

Pertimbangan kelenteng yang tidak melakukan ritual rebut pada persembahan phang si ku. Ini untuk menjaga agar barang-barang masih utuh saat diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sehingga barang yang layak dimakan, tidak banyak yang mengalami kerusakan akibat diperebutkan. Demikian juga demi keamanan dan ketertiban acara.

Persembahan yang disajikan di phang si ku berupa hasil pertanian seperti sayur, buah, umbi-umbian, dan kacang. Terdapat pula makanan instan seperti mie, ikan kaleng, dan kue kaleng.

Menjelang chit ngiat pan, terdapat lip - lip chiung / lip – lip hiong [ kunang – kunang ]; 萤火虫 - yíng huǒ chóng [serangga api yang bersinar] {M}.  Ini cukup memberikan suasana yang mistis di zaman dahulu. Kunang – kunang yang muncul di kegelapan hutan, sering dipersonifikasi sebagai kuku hantu telah keluar di perayaan chit ngiat pan. Anak-anak pun senang untuk mengambil kunang-kunang dan dimasukkan di dalam botol hingga botol menjadi bercahaya. Dapat menjadi hiasan di gelap malam.

Tentu saja dengan kedatangan barongsai menambah meriah suasana. Pada acara tahun 2024, Klenteng Amal Bakti Batu Rusa menyediakan tonggak [ tiang pancang/high poles] untuk pertunjukan barongsai.

Angin chit ngiat pan memiliki kondisi yang berbeda dengan angin ko ngian [ hari raya Imlek]. Cenderung angin akan berhembus lebih kencang sepanjang hari. Di Pangkalpinang, fase ini akan memasuki musim kemarau.

Klenteng yang menyelenggarakan chiong si ku  dengan memasang Thai Se Ja di Pangkalpinang, pernah dilaksanakan di area pusat kota dekat sekolah Fui Kon - sekolah tionghoa [ bioskop Golden ]. Namun tidak diadakan lagi hingga sekarang. Di Pangkalpinang, Thai Se Ja pernah diadakan di Klenteng Shen Mu Miau – Dewi Laut kawasan Tanjung Bunga.

Secara rutin, Thai Se Ja ada di Vihara Sukhavati – Gudang Padi yang terselenggara di tanggal 24 bulan 7 Imlek. Semoga di masa mendatang, Thai Se Ja dapat ditemukan lebih banyak di kawasan Pangkalpinang.[Vau-G/www.bapang007.blogspot.com]


(Bersambung ke bagian II: Lokasi Legendaris Chiong Si Ku)

---
Penulis: Vau-G | Hak Cipta Dilindungi © 2026 Bapang 007 (www.bapang007.blogspot.com)

No comments:

Post a Comment