Daftar Isi:
Ø - Tentang Chit Ngiat Pan
Ø Tentang Chit Ngiat Pan
Chit Ngiat Pan [Pertengahan Bulan ke-7 Imlek]; 七月半 - qī yuè bàn {M}; chhit-ngia̍t-pán {HM}
memiliki 3 sembahyang yang dijalankan oleh orang Hakka Bangka pada umumnya.
1.
Sembahyang kepada para leluhur yang ke - 3 dalam
setahun dilakukan tanggal 14 bulan 7 Imlek.
2.
Sembahyang Khe Ja – orang tua angkat dari
kalangan Dewa – dewi untuk anak-anak. Dilaksanakan di tanggal 14 bulan 7
Imlek. Dalam setahun ada yang sembahyang
khe ja pada tanggal 30 bulan 12 Imlek, hari kebesaran Dewa-Dewi yang menjadi
orang tua angkat, dan tanggal 14 bulan 7 Imlek.
3.
Sembahyang Dewa-dewi setempat. Ada pula yang
terbiasa melakukan sembahyang di kelenteng terdekat rumah . Kelenteng setempat
yang berukuran tidak terlalu besar. Walaupun tidak menjadikan orang tua angkat,
tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa-dewi setempat. Biasanya
dilakukan di tanggal 14 bulan 7 imlek dan tanggal 30 bulan 12 imlek [sam sip
pu].
4.
Sembahyang chiong si ku [rebut] meliputi
persembahan kepada makhluk-makhluk halus dibawah kendali Thai Se Ja. Thai Se Ja
hanya bertugas selama bulan 7 imlek. Puncak
acara sembahyang dilakukan ritual rebut oleh masyarakat yang mengikuti acara.
Sembahyang kepada leluhur dilakukan di rumah pada tanggal 14
bulan 7 imlek. Ini menandakan sudah tidak lama lagi akan ko ngian [ tahun baru
imlek ].
Sembahyang chiong si ku merupakan ritual yang diyakini saat dimana
pintu neraka terbuka lebar untuk para arwah. Arwah yang tidak pernah diurus
oleh keluarganya setelah kematiannya dan kuburan mereka yang tidak pernah
disembahyangi oleh keluarganya. Arwah-arwah ini yang turun ke bumi. Persembahan
yang diberikan selama sembahyang rebut merupakan makanan bagi para arwah yang
bergentayangan.
Dalam buku sembahyang rebut Kelenteng Kong Fuk Miau – Mentok
disampaikan bahwa sekitar 2 bulan sebelum acara, telah dibentuk panitia
pelaksanaan acara yang meliputi perwakilan warga. Ketua kelenteng akan membahas
pembagian kerja, perancangan, persiapan bahan, konsumsi dan hal-hal lainnya.
Awal mula dilakukan pembuatan patung, kelengkapan sembahyang,
dan diiringi memanjatkan doa harapan dan keselamatan. Pengumpulan bambu sebagai
bahan penopang patung dan membentuknya sesuai figur patung. Pembuatan
patung-patung dilakukan oleh orang-orang berketrampilan khusus. Ada patung kuda
dan penunggang, burung hong dan kelabang, istana neraka, miniatur kapal,
pencabut arwah, penjaga pintu neraka, penjaga bahan makanan, dan Dewa Bumi. Kerangka
bambu dibungkus dengan kertas semen, sedangkan pembuatan kepala menggunakan
styrofoam.
Pemakaian kayu reng sebagai kombinasi dengan bambu.
Berfungsi untuk memperkuat rangka. Lem sagu sebagai perekat kertas. Kertas emas
turut dipergunakan untuk patung Thai Se Ja. Rambut Thai Se Ja menggunakan bahan
ijuk atau rafia. Tidak lupa ada gambar Dewi Kwan Im dan payung di atas kepala
patung Thai Se Ja. Dewi Kwan Im yang menjaga Thai Se Ja.
Thai Se Ja dengan tangan kanan memegang pena untuk menulis
arwah – arwah yang tidak terurus.
Sedangkan tangan kiri memegang bendera yang memiliki arti lambang
kesejahteraan [ Thai Se Ja – Kelenteng Kong Fuk Miau; Mentok]. Ada Thai Se Ja
yang memegang buku di tangan kiri. Selain itu ada yang memegang tulisan 分衣施食 - fēn yī shī shí artinya membagi pakaian dan memberi makanan.
Setelah perlengkapan sembahyang selesai, sebelum sembahyang chiong
si ku dimulai, warga akan memberikan sumbangan bahan makanan pokok. Panitia
akan menyiapkan daging ayam, babi, udang, menara nasi, buah dan kue tradisi.
Kue tradisi terdiri dari kue ku, kue apem dan kue lapis.
Penataan kelengkapan sembahyang terdapat di dalam dan di
luar kelenteng. Untuk mempermudah proses sembahyang, diberi no. urut pada
setiap altar. Setelah semua perlengkapan sembahyang selesai dipersiapkan,
kepala kelenteng akan memukul tambur dan lonceng sebagai dimulainya prosesi
sembahyang rebut.
Penyembelihan ayam jantan muda untuk diambil darahnya. Darah digunakan dalam
prosesi pembukaan mata Thai Se Ja, patung dewa dan patung penjaga. Pemimpin akan melakukan sembahyang
untuk doa persembahan dan penghormatan kepada Dewa – Dewi. Agar diberi
kelancaran dalam proses sembahyang rebut. Pemimpin sembahyang akan membuka kain
penutup patung. Penutup mata yang dibuka untuk mengundang roh masuk ke dalam
patung.
Setelah prosesi pembukaan kain merah, umat dipersilahkan
untuk sembahyang mengikuti no.urutan altar sembahyang. Waktu sembahyang hingga
larut malam jam 00.00 WIB. Sesaat sebelum acara puncak yaitu pembakaran patung
Thai Se Ja dan kelengkapan patung sembahyang rebut.
Pihak kelenteng juga menyediakan makanan untuk para umat
yang datang sembahyang dan para tamu undangan. Selain sebagai ritual keagamaan,
banyak juga masyarakat umum yang tertarik menyaksikan sembahyang chiong si ku sebagai
daya tarik wisata. Tidak ketinggalan kedatangan barongsai yang silih berganti
dari berbagai perguruan barongsai.
Penutupan acara chiong si ku dengan membakar patung Thai Se Ja dan patung
perlengkapan lainnya. Menandakan pengantaran arwah kembali dan pintu akhirat
telah ditutup.
Kelenteng yang tidak membuat patung Thai Se Ja. Dapat mendirikan phang
si ku.
棚四角- péng sì
jiǎo {M}; phâng-si-kok {HM} [phang – struktur yang terbuat dari kayu; si –
empat; ku – sudut. Struktur kayu tempat persembahan yang ditopang oleh 4 tiang
[ hingga muncul 4 sudut], bertatakan papan.
Sembahyang chiong si ku yang dikenal dengan sembahyang rebut.
搶四角- qiǎng sì jiao {M}; Chhióng-si-kok {HM} [chiong –
rebut; si – empat; ku – sudut - berebut
di empat sudut. Berebut dari empat penjuru arah].
Selain itu dikenal pula dengan pai si ku.
摆四角-
bǎi sì jiao {M}; Pái-si-kok {HM} [pai – menata; si – empat; ku – sudut - menata di empat sudut. Menata segala jenis
persembahan di phang si ku].
Untuk tanggal 15 bulan 7 imlek, baru dilakukan
persembahyangan di klenteng utama [ klenteng besar ]. Secara umum, orang hakka
Bangka menamakan klenteng dengan thai pak kung. Walaupun Dewa atau Dewi yang
menjadi tuan rumah klenteng adalah selain thai pak kung [ da bo gong] seperti
Dewa Kwan Tie, Kwan Jim Nyong-Nyong, Dewa Fa Kong, Dewa Pet Tie, tetapi tetap
klenteng tersebut disebut thai pak kung.
Umumnya selain altar persembahan mengunakan phang si ku terdapat pula altar/meja persembahan untuk
Thai Se Ja. Dan pendirian Thai Se Ja dapat menggunakan gambar atau patung.
Untuk persembahan yang diperebutkan, yang berada di area phang si ku. Untuk
persembahan di altar Thai Se Ja, tidak untuk diperebutkan. Ini akan dibagikan
kepada orang yang membutuhkan.
Namun karena tradisi setempat, ada pula klenteng setempat [
bukan klenteng utama] yang merayakan persembahyangan di tanggal 15 bulan 7
imlek, walaupun secara umum di tanggal 14. Ada pula kelenteng utama yang
merayakan persembahyangan sampai 3 hari berturut-turut seperti Kelenteng Cetya
Dharma Abadi Pohin, Air Duren – Sungailiat.
Pertimbangan kelenteng yang tidak melakukan ritual rebut
pada persembahan phang si ku. Ini untuk menjaga agar barang-barang masih utuh
saat diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sehingga barang yang layak
dimakan, tidak banyak yang mengalami kerusakan akibat diperebutkan. Demikian juga
demi keamanan dan ketertiban acara.
Persembahan yang disajikan di phang si ku berupa hasil
pertanian seperti sayur, buah, umbi-umbian, dan kacang. Terdapat pula makanan
instan seperti mie, ikan kaleng, dan kue kaleng.
Menjelang chit ngiat pan, terdapat lip - lip chiung / lip –
lip hiong [ kunang – kunang ]; 萤火虫 - yíng huǒ chóng [serangga api yang
bersinar] {M}. Ini cukup memberikan
suasana yang mistis di zaman dahulu. Kunang – kunang yang muncul di kegelapan
hutan, sering dipersonifikasi sebagai kuku hantu telah keluar di perayaan chit
ngiat pan. Anak-anak pun senang untuk mengambil kunang-kunang dan dimasukkan di
dalam botol hingga botol menjadi bercahaya. Dapat menjadi hiasan di gelap
malam.
Tentu saja dengan kedatangan barongsai menambah meriah
suasana. Pada acara tahun 2024, Klenteng Amal Bakti Batu Rusa menyediakan
tonggak [ tiang pancang/high poles] untuk pertunjukan barongsai.
Angin chit ngiat pan memiliki kondisi yang berbeda dengan
angin ko ngian [ hari raya Imlek]. Cenderung angin akan berhembus lebih kencang
sepanjang hari. Di Pangkalpinang, fase ini akan memasuki musim kemarau.
Klenteng yang menyelenggarakan chiong si ku dengan memasang Thai Se Ja di Pangkalpinang,
pernah dilaksanakan di area pusat kota dekat sekolah Fui Kon - sekolah tionghoa
[ bioskop Golden ]. Namun tidak diadakan lagi hingga sekarang. Di
Pangkalpinang, Thai Se Ja pernah diadakan di Klenteng Shen Mu Miau – Dewi Laut kawasan
Tanjung Bunga.
Secara rutin, Thai Se Ja ada di Vihara Sukhavati – Gudang
Padi yang terselenggara di tanggal 24 bulan 7 Imlek. Semoga di masa mendatang,
Thai Se Ja dapat ditemukan lebih banyak di kawasan Pangkalpinang.
(Bersambung ke bagian II: Lokasi Legendaris Chiong Si Ku)
No comments:
Post a Comment